Selasa, 20 Mei 2014

Sebatas kita mampu°°

Sebut saja namanya mr.D, tidak tau pasti aku mengenalnya sejak kapan. Lebih tepatnya mungkin di 2014 awal dia datang di jejaring sosial blackberry messenger. Melalui temannya yang juga adalah temanku, dia menyapaku di jejaring sosial tersebut. Sayang sekali aku tidak begitu meresponnya, karena aku merasa tidak tertarik dan tidak menemukan kenyamanan disana. Ya, alasan yang lebih tepatnya lagi adalah karena aku tidak terlalu mengenalnya dan tidak pernah bertemu sapa dengan Mr.D, jadi lebih baik aku tidak terlalu menanggapinya. Aku hanya takut membuang-buang waktuku.
Singkat cerita, aku dan dia tidak pernah berkomunikasi lagi di blackberry messenger. Entah bagaimana ceritanya kontak dia tidak ada lagi di bbm ku, ataukah terhapus olehku atau mungkin dia menghapus pertemanan di jejaring sosial itu.
Ya, aku biasa saja. Aku tidak terlalu memikirkannya. Bahkan aku pun tidak tau kalau kita tidak berteman lagi di kontak blackberry messenger.


Waktu berlalu begitu cepatnya, sudah memasuki akhir bulan April 2014.

24 April 2014, Kamis.
 Telphone genggamku berbunyi, satu panggilan tak terjawab. Ternyata satu panggilan dari nomor yang kukenal, teman lamaku. Sengaja ku abaikan saja, jam dinas yang belum usai membuatku malas untuk mengangkat panggilan ini. Kemudian fikiran ku berubah, mungkin saja ada hal penting yang ingin disampaikan Mr.R, ya dia temanku yang sempat membuat kesal beberapa waktu lalu. Mr.R yang tanpa sepengetahuanku memberikan kontak pin BBM ku ke temannya si Mr.D itu. Mr.D yang ngebetein di chat bbm, yang sok akrab dan menjengkelkan. Ini semua karena temanku si Mr.R yang lancang memberikan kontak pin ku. Agak sedikit lebay sih, walaupun sebenarnya ini hal biasa.
Ya, karena pada akhirnya aku harus mengangkat panggilan telphone dari mr.R. Panggilan ke tiga pun akhirnya meluluhkan hatiku, di pembicaraan via telphone itu ternyata dia temanku hanya menanyakan bagaimana caranya untuk melakukan tindakan Rontgen Thorax di tempatku bekerja Rs.St.Theresia Jambi. Aku mengarahkan beberapa tahap kepada Mr.R, untuk ke IGD terlebih dahulu meminta surat pengantar Rontgen dari dokter Jaga IGD. Terakhir temui petugas Rontgen di ruang Radiologi. Sebelum mengakhiri percakapan siang itu, aku sempat menanyakan untuk keperluan apa dan siapa yang sakit. Ternyata hanya untuk keperluan pekerjaan temannya. Untuk pemeriksaan akhir tes kerja di sebuah perusahaan.
 Selang 20 menit kemudian jam dinas pagi ku pun berakhir. Satu per satu perawat dan pekarya ruangan Meranti mempersiapkan diri untuk meninggalkan ruangan. Wajah lelah dengan senyum sumringah dari masing-masing kami  terlihat sangat jelas. Memasuki lift dan menekan tombol 1 menuju lantai dasar. Aku terus mengobrol semangat dengan rekan kerjaku yang lebih senior dariku, kebetulan juga dia adalah salah satu teman dekatku di ruang kerjaku.
 Setibanya dilantai dasar, kami terus saja mengobrol tertawa kecil tanpa memperdulikan yang ada di sekitar kami.
 Tiba-tiba saja aku mendengar ada yang memanggil namaku setiba didepan ruangan radiologi. Panggilan khas, yaitu panggilan "galon". Yaps, itu adalah panggilan kesayangan dari teman-teman lamaku. Aku langsung menuju ke arah suara itu, yang ternyata ada di sampingku sendiri. Laki-laki duduk dikursi tunggu untuk mengantri tindakan di ruangan radiologi. Oh, ternyata Mr.R temanku yang menghubungiku satu jam yang lalu via telphone. Aku menyalaminya dan berbincang-bincang sedikit heboh. Karena sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Sementara rekan kerjaku tetap menunggu disampingku sambil memandangi seorang laki-laki yang duduk disebelah Mr.R. Tiba-tiba Mr.R menyeletuk, "nih nemenein dia mau rontgen." Aku melirik ke arahnya, dan dia tersenyum simpul terus memandangiku. Tiba-tiba aku mengalihkan pandanganku, dan melirik temanku Mr.R. Sejenak aku coba mengingat wajah lelaki ini. Aku melihat ke arahnya lagi, dia masih tersenyum dan sedikit mengangkat tangannya. Tanpa ragu aku pun menyalaminya dan tersenyum kepadanya. Sambil menyebutkan namaku, "galuh" dan dia pun menyebut namanya "Mr.D". Oh, my God. He is... Mr.D. Aku mengenalnya beberapa waktu yang lalu via blackberry messenger. Aku mengbaikannya. Tiba-tiba saja aku mengeluarkan suaraku dan mengarah ke arah Mr.R temanku. "ya udah, selamat menunggu ya, aku pulang duluan." Ku arahkan pandanganku ke arah Mr.D, dia masih fokus memandangiku dan memberikan senyumannya. Aku pun pamit, dan tidak lupa membalas senyumannya
 Dengan menyeret tangan rekan kerjaku, aku berlari kecil terus tersenyum. Tiba-tiba saja seniorku meneyeletuk "Lu', salam sama yang disebelah temanmu tadi. Cakep Lu'." dan aku hanya tertawa sumringah. Hampir tidak bisa berkata apa-apa. Dengan cepat aku meninggalkan Nona Rth, seniorku itu. Kemudian aku mundur lagi ke arahnya, dan kuceritakan padanya tentang kelucuan ini. Ya, dialah Mr.D yang sempat hadir.
 Entah apalah ini namanya, kebetulan atau apa. Setelah pertemuan itu, aku berteman kembali di via blackberry messenger dengan Mr.D. Tentunya ini juga peran dari Mr.R temanku.
 Apakah aku jatuh cinta setelah pertemuan itu? Apakah aku menyukainya? Seperti terhipnotis  oleh senyumnya.

Aku tidak perlu berharap banyak padanya. Hanya pada-NYA aku berharap. :-)
 Jika pertemanan ini baik untuk agama kami, akhlak kami dan kehidupan kami, semoga Allah mendekatkan kami. Jika ini hanya persinggahan sementara, semoga kelak tidak ada kebencian dan permusuhan diantara kami. Semoga semua terjalankan dengan baik. Semoga pertemanan ini baik.
Semoga aku bisa mengartikan semua ini dengan bijak dan dewasa. Agar aku tidak sakit terlampau jauh.
 Aamiin Allahumma Amiin.




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar